Bagi banyak anak muda, nongkrong bukan hanya soal makan atau minum. Duduk di kafe outdoor, ngobrol bersama teman, mengerjakan tugas, meeting santai, atau sekadar mencari suasana baru sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Masalahnya, kebiasaan tersebut bisa terganggu ketika kabut asap muncul.
Duduk berjam-jam di area terbuka saat udara sedang penuh asap berarti tubuh juga mendapatkan paparan lebih lama. EPA merekomendasikan mengurangi waktu di luar dan menunggu hingga kualitas udara membaik sebelum melakukan aktivitas outdoor.
Lantas, apakah harus berhenti nongkrong sampai kabut asap benar-benar hilang?
Tidak harus. Yang dapat diubah adalah tempat dan cara nongkrongnya.
Kenapa Nongkrong Outdoor Perlu Dipertimbangkan Saat Kabut Asap?
Berbeda dengan aktivitas yang hanya dilakukan selama beberapa menit, nongkrong sering berlangsung cukup lama.
Semakin lama seseorang berada di lingkungan berasap, semakin lama pula paparannya. Asap dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, dan paru-paru.
Bagi orang yang memiliki asma, penyakit paru, atau penyakit jantung, paparan asap perlu diperhatikan lebih serius karena mereka termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami dampak kesehatan.
Pilihan Nongkrong yang Lebih Sehat Saat Kabut Asap
1. Pindah ke area indoor dengan kualitas udara yang lebih baik
Daripada duduk di teras atau area outdoor, pilih tempat indoor yang memiliki pengelolaan udara yang baik.
Namun, jangan menganggap semua ruangan indoor otomatis aman. Asap tetap dapat masuk ke bangunan melalui pintu, jendela, dan sistem ventilasi tertentu.
EPA merekomendasikan mengurangi paparan dengan tetap berada di dalam ruangan dan menjaga pintu serta jendela tertutup ketika kondisi asap buruk.
2. Nongkrong di rumah teman
Pilihan sederhana lainnya adalah mengganti kafe outdoor dengan rumah.
Selain lebih mudah mengontrol kondisi udara, waktu berkumpul juga dapat dibuat lebih santai tanpa harus duduk di tengah lingkungan yang berasap.
Jika udara rumah juga terdampak, pintu dan jendela dapat ditutup dan kualitas udara diperhatikan.
3. Pilih tempat dengan sistem filtrasi yang baik
Jika tetap ingin pergi ke kafe atau coworking space, perhatikan kondisi ruangan.
Tempat dengan sistem HVAC dan filtrasi udara yang baik dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan. EPA juga merekomendasikan filtrasi udara dan air cleaner sebagai bagian dari upaya mengurangi paparan asap di dalam ruangan.
4. Kurangi durasi nongkrong
Tidak selalu harus membatalkan semua rencana.
Jika memang harus bertemu teman, durasi dapat dibuat lebih singkat. Misalnya, pertemuan yang biasanya berlangsung tiga jam dapat dipersingkat ketika kondisi udara sedang buruk.
Mengurangi waktu paparan merupakan salah satu cara untuk mengurangi jumlah asap yang terhirup.
5. Pilih waktu ketika kualitas udara lebih baik
Kualitas udara dapat berubah sepanjang hari. Karena itu, jangan hanya mengandalkan kondisi langit.
Periksa informasi kualitas udara sebelum menentukan waktu bertemu. Ketika kualitas udara lebih baik, aktivitas outdoor dapat dilakukan dengan risiko paparan yang lebih rendah dibandingkan ketika asap sedang pekat.
Bagaimana dengan Nongkrong Sambil Merokok atau Vape?
Saat kondisi udara sudah dipenuhi asap dari luar, sebaiknya jangan menambah sumber polusi di sekitar.
Merokok di dalam atau dekat area tempat berkumpul dapat meningkatkan paparan terhadap asap rokok. Begitu juga aktivitas lain yang menghasilkan partikel di dalam ruangan.
EPA menyarankan menghindari aktivitas yang menambah polusi udara di dalam rumah selama kondisi asap. Prinsip yang sama masuk akal diterapkan pada tempat berkumpul selama periode kualitas udara buruk.
Bagaimana Jika Tetap Harus Keluar?
Ada kalanya seseorang harus keluar rumah, misalnya untuk bekerja, kuliah, atau bertemu orang lain.
Dalam kondisi tersebut, periksa kualitas udara terlebih dahulu dan usahakan waktu di luar sesingkat mungkin. Jika kondisi udara berada pada kategori tidak sehat akibat asap, EPA menyarankan mengurangi tingkat aktivitas dan mempertimbangkan respirator partikulat yang sesuai ketika harus berada di luar.
Masker kain atau masker bedah tidak dirancang untuk memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel asap seperti respirator partikulat yang sesuai.
Jangan Abaikan Respons Tubuh
Nongkrong seharusnya menjadi waktu untuk bersantai, bukan membuat tubuh terus terpapar sampai muncul keluhan.
Jika mulai mengalami batuk, tenggorokan terasa sangat tidak nyaman, mengi, atau sesak napas, sebaiknya segera pindah ke tempat dengan udara yang lebih bersih dan kurangi aktivitas. Batuk, mengi, dan sesak dapat menjadi tanda bahwa paparan perlu dikurangi.
Jika muncul kesulitan bernapas berat atau nyeri dada, segera cari pertolongan medis.
Jadi, Haruskah Gen Z Berhenti Nongkrong?
Tidak harus.
Kabut asap tidak berarti kehidupan sosial harus berhenti. Yang perlu diubah adalah cara dan tempat berkumpul.
Outdoor cafe dapat diganti dengan tempat indoor yang kualitas udaranya lebih baik. Nongkrong lama dapat diganti dengan pertemuan yang lebih singkat. Bahkan, kumpul di rumah dapat menjadi pilihan ketika udara luar sedang buruk.
Intinya adalah tetap menjaga interaksi sosial tanpa mengabaikan kondisi udara.
Kesimpulan
Ketika kabut asap menghalangi kebiasaan nongkrong outdoor, pilihan yang lebih sehat adalah mengurangi waktu di luar dan memilih tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.
Nongkrong indoor, berkumpul di rumah, memilih tempat dengan filtrasi udara yang baik, atau menggeser waktu bertemu ketika kualitas udara membaik dapat menjadi alternatif.
Yang paling penting, jangan menganggap udara yang hanya terlihat sedikit berasap berarti paparan pasti rendah. Periksa kualitas udara dan perhatikan respons tubuh sebelum memutuskan beraktivitas di luar.
Untuk info lebih lanjut, anda bisa menghubungi kami
WhatsApp: 085664952686
Website: klikmedika.id
Instagram: @klikmedika








