Abu Vulkanik Terhirup, Apa yang Terjadi pada Paru-Paru?

Ketika gunung api mengalami erupsi, abu vulkanik dapat terbawa angin dan menyebar ke berbagai wilayah. Partikel abu yang berukuran sangat kecil dapat terhirup, terutama ketika seseorang berada di luar ruangan saat hujan abu atau sedang membersihkan abu yang mengendap.

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya dapat mengiritasi saluran pernapasan dan mengganggu kemampuan bernapas, terutama pada orang yang memiliki kondisi pernapasan tertentu.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi pada paru-paru ketika abu vulkanik terhirup?

Bagaimana Abu Vulkanik Masuk ke Saluran Pernapasan?

Ketika seseorang bernapas di lingkungan yang dipenuhi abu, partikel abu dapat masuk melalui hidung dan mulut.

Sebagian partikel yang lebih besar dapat tertahan di hidung atau tenggorokan, sementara partikel yang lebih kecil dapat masuk lebih jauh ke saluran pernapasan.

Tubuh memiliki mekanisme pertahanan untuk mengeluarkan partikel asing, salah satunya melalui batuk. Namun, paparan dalam jumlah tinggi atau berkepanjangan dapat menyebabkan iritasi yang lebih berat.

Apa Dampaknya bagi Paru-Paru?

1. Saluran Pernapasan Bisa Teriritasi

Abu vulkanik dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan.

Gejalanya dapat berupa batuk, tenggorokan terasa kering atau gatal, serta rasa tidak nyaman ketika bernapas.

2. Batuk Bisa Menjadi Lebih Sering

Batuk merupakan salah satu respons tubuh terhadap partikel yang masuk ke saluran pernapasan.

Setelah terpapar abu, seseorang dapat mengalami batuk yang lebih sering, terutama jika paparan terjadi dalam waktu lama.

3. Napas Bisa Terasa Lebih Berat

Paparan abu dan polutan vulkanik dapat menyebabkan kesulitan bernapas pada sebagian orang. Kondisi ini dapat lebih berisiko bagi orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan.

4. Asma Bisa Kambuh

Orang yang memiliki asma dapat lebih sensitif terhadap abu vulkanik. Paparan dapat memperburuk gejala seperti batuk, mengi, dada terasa berat, atau sesak napas.

Apakah Abu Vulkanik Bisa Sampai ke Paru-Paru Bagian Dalam?

Ukuran partikel sangat berpengaruh terhadap seberapa jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan.

Partikel yang sangat kecil memiliki kemampuan lebih besar untuk masuk lebih dalam dibandingkan partikel berukuran besar. Karena itulah paparan terhadap abu halus perlu dikurangi sebanyak mungkin.

Selain partikelnya, erupsi juga dapat menghasilkan gas vulkanik tertentu yang berbahaya jika terhirup dalam konsentrasi tinggi.

Siapa yang Perlu Lebih Berhati-hati?

Kelompok yang lebih rentan terhadap dampak abu dan polusi vulkanik antara lain:

  • Orang dengan asma.
  • Orang dengan penyakit paru kronis.
  • Orang dengan penyakit jantung.
  • Anak-anak dan bayi.
  • Lansia.

Kelompok tersebut sebaiknya mengurangi paparan sebanyak mungkin ketika terjadi hujan abu atau kualitas udara memburuk.

Bagaimana Melindungi Paru-Paru dari Abu Vulkanik?

Cara paling efektif adalah mengurangi paparan.

Jika kondisi memungkinkan, tetap berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup ketika abu sedang turun. CDC juga merekomendasikan respirator N95 yang disetujui NIOSH ketika seseorang harus berada di luar atau melakukan pembersihan abu.

Selain itu, hindari aktivitas yang membuat abu kembali beterbangan. Saat membersihkan abu, gunakan metode yang mengurangi debu di udara.

Kacamata pelindung juga dapat membantu melindungi mata dari partikel abu.

Jangan Memaksakan Aktivitas Fisik di Luar

Berolahraga atau melakukan pekerjaan fisik berat di lingkungan yang dipenuhi abu dapat meningkatkan jumlah udara yang dihirup.

Karena itu, ketika abu sedang bertebaran, sebaiknya kurangi aktivitas fisik di luar dan pilih tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.

Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?

Jika setelah terpapar abu seseorang mengalami sesak napas berat, napas semakin sulit, nyeri dada, pusing berat, kebingungan, atau gejala yang terus memburuk, segera cari pertolongan medis.

Orang dengan asma sebaiknya mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan dokter dan tidak menghentikan obat secara mandiri.

Kesimpulan

Abu vulkanik yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan pada sebagian orang dapat menyebabkan batuk, tenggorokan teriritasi, hingga kesulitan bernapas. Dampaknya dapat lebih serius pada penderita asma, penyakit paru, dan kelompok rentan lainnya.

Karena itu, jangan menganggap abu vulkanik sebagai debu biasa. Kurangi aktivitas di luar saat hujan abu, tetap berada di tempat dengan udara lebih bersih, dan gunakan respirator N95 yang sesuai bila harus keluar atau membersihkan abu.

Yang paling penting, selalu ikuti informasi dan arahan resmi dari pihak berwenang selama erupsi berlangsung.

Untuk info lebih lanjut, anda bisa menghubungi kami

WhatsApp: 085664952686
Website: klikmedika.id
Instagram: @klikmedika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *