Tenggorokan terasa panas, kering, gatal, atau seperti terbakar dapat terasa cukup mengganggu ketika kabut asap sedang melanda.
Keluhan tersebut bisa muncul setelah seseorang bekerja di luar, mengendarai motor, atau berada di lingkungan yang kualitas udaranya sedang buruk.
Lalu, mengapa kabut asap bisa membuat tenggorokan terasa panas?
Partikel di Udara Dapat Mengiritasi Tenggorokan
Asap dapat membawa berbagai partikel halus dan polutan yang mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, serta saluran pernapasan. Paparan tersebut dapat membuat tenggorokan terasa kering, perih, atau panas.
Keluhan dapat terasa lebih jelas jika seseorang berada di luar ruangan dalam waktu lama.
Bernapas Lewat Mulut Bisa Membuat Tenggorokan Makin Kering
Ketika hidung terasa tersumbat atau seseorang melakukan aktivitas fisik, bernapas melalui mulut dapat menjadi lebih sering.
Udara yang masuk langsung melalui mulut tidak melewati proses pelembapan seperti ketika udara melewati hidung. Akibatnya, tenggorokan dapat terasa semakin kering atau tidak nyaman.
Jika udara yang dihirup juga mengandung partikel polutan, rasa iritasi dapat menjadi semakin terasa.
Kurang Minum Juga Bisa Memperburuk Rasa Tidak Nyaman
Saat tubuh kekurangan cairan, mulut dan tenggorokan dapat terasa lebih kering.
Karena itu, ketika kabut asap terjadi, pastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi. Air putih dapat menjadi pilihan utama.
Namun, minum air bukan berarti menghilangkan dampak polusi. Langkah terpenting tetap mengurangi paparan terhadap udara tercemar.
Siapa yang Lebih Rentan?
Semua orang dapat mengalami iritasi akibat asap, tetapi dampaknya bisa lebih terasa pada orang yang memiliki asma, penyakit paru, atau kondisi kesehatan tertentu.
Anak-anak dan kelompok rentan juga perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Bagaimana Meredakan Tenggorokan yang Terasa Panas?
Kurangi Aktivitas di Luar
Jika memungkinkan, masuk ke ruangan dengan kualitas udara yang lebih baik.
Jangan memaksakan diri tetap berada di luar hanya karena belum merasa terlalu terganggu.
Minum Air yang Cukup
Air membantu menjaga kelembapan mulut dan tenggorokan.
Jika tenggorokan terasa tidak nyaman, minuman hangat juga dapat memberikan rasa lega bagi sebagian orang.
Hindari Rokok
Asap rokok merupakan iritan tambahan yang dapat membuat saluran pernapasan semakin tidak nyaman.
Hindari merokok maupun berada di dekat orang yang sedang merokok.
Kurangi Aktivitas Berat di Luar
Olahraga atau aktivitas fisik berat membuat frekuensi pernapasan meningkat. Ketika udara tercemar, kondisi tersebut dapat meningkatkan jumlah polutan yang terhirup.
Gunakan Perlindungan Saat Harus Keluar
Jika harus berada di luar saat kualitas udara buruk, penggunaan respirator N95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikel dari asap.
Apakah Tenggorokan Panas Selalu karena Kabut Asap?
Tidak.
Rasa panas atau nyeri pada tenggorokan juga dapat disebabkan oleh infeksi, alergi, refluks asam lambung, dehidrasi, atau kondisi lainnya.
Karena itu, jangan langsung menganggap semua keluhan tenggorokan sebagai akibat kabut asap.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika keluhan tenggorokan berlangsung lama, semakin berat, atau disertai demam tinggi, sulit menelan, suara berubah secara signifikan, atau keluhan lain yang mengkhawatirkan.
Jika muncul sesak napas, sulit bernapas, nyeri dada, atau kondisi memburuk dengan cepat setelah paparan asap, segera cari pertolongan medis.
Kesimpulan
Kabut asap dapat membuat tenggorokan terasa panas, kering, atau gatal karena partikel dan polutan di udara dapat mengiritasi saluran pernapasan.
Untuk mengurangi keluhan, batasi paparan udara tercemar, cukup minum, hindari asap rokok, dan kurangi aktivitas fisik berat di luar ketika kualitas udara buruk.
Jika harus keluar, gunakan perlindungan pernapasan yang sesuai. Jangan abaikan sesak napas atau gejala berat lainnya karena kondisi tersebut membutuhkan perhatian medis.
Untuk info lebih lanjut, anda bisa menghubungi kami
WhatsApp: 085664952686
Website: klikmedika.id
Instagram: @klikmedika








